Salahnya Banyak Anak - Cerita Kanjeng


...


"Pakne, aku nyawang keluarganya Lik Kliwon itu kok gemes ya..."

"Kok bisa?"

"Apa Pakne nggak lihat? Mereka itu hidupnya serba kekurangan."

"Jangan ngawur, Bune. Yang kurang itu apane? Rumah, mereka punya. Pakaian, mereka punya. Makanan, mereka punya. Anak malah banyak."

"Justru itu hlo, Pakne, anaknya itu..."

"Piye karepmu? Ada masalah dengan anaknya Lik Kliwon?"

"Masalahnya ya anaknya itu."

"Jangan bikin bingung. Jangan bikin perutku tambah lapar gara-gara bingung memahami omonganmu, Bune."

"Anaknya banyak. Itu masalah. Hidupnya pas-pasan. Mungkin akan pas kalau anaknya cuma 1. Kalau anaknya 6 itu jadinya nggak pas."

"Ooo..., kamu cuma ingin bilang kalau Lik Kliwon itu kurang perhitungan? Kamu cuma ingin blak-blakan menegaskan bahwa wong miskin itu nggak boleh punya banyak anak? Mesakke anake? Mengko njur arep dipakani pakai apa? Begitu?"

"Nah itu kan sudah paham. Kasihan kan?"

"Bune, kamu nggak perlu melu-melu omongane wong akeh."

"Aku cuma kasihan, Pakne. Kuwatir."

"Jangan lancang melawan kuasa Tuhan, Bune. Semiskin-miskinnya Lik Kliwon, apa dia pernah ngrusuhi berasmu? Nggak kan? Apa pernah dia ketahuan nyolong jemuran orang? Apa pernah dia dan keluarganya nunut ngiyub di teras rumah kita? Nggak pernah."

"Iya sih. Tapi pasti akan lebih ayem kalau anaknya nggak sebanyak itu."

"Kok kamu lancang lagi? Kok wani ndhisiki kersane Gusti? Dari mana kamu bisa tahu masa depan orang? Sedangkan nasib kita besok pagi akan seperti apa saja kita nggak tahu."

"Iya, aku ngerti. Tapi anak kan bisa direncanakan. Mosok tiap tahun lahir satu? Mosok nggak bisa ditahan?"

"Hehehe..., seandainya kamu ada di posisi seperti Lik Kliwon dan Lik Mirah itu, pasti omonganmu nggak akan selancang itu, Bune."

"Apa bedanya? Kita juga omah-omah seperti mereka. Tapi kan nggak kebobolan terus begitu."

"Ini yang perlu kamu tahu. Lik Kliwon itu bukan orang sekolahan seperti kita. Dia tidak punya peluang kerja alusan. Bisanya kerja kasar, kerja otot yang menghabiskan waktu tapi hasilnya nggak tentu. Lik Mirah nggak mungkin mbantu. Dia sudah pasti habis waktunya untuk momong 6 anaknya di rumah."

"Makanya jangan ..."

"Nanti dulu. Aku belum selesai ngomong."

"Oke, terus piye?"

"Semua kebutuhan mereka harus tercukupi dari penghasilan Lik Kliwon. Iya kan? Jadinya Lik Kliwon tidak pernah punya uang sisa. Tidak pernah bisa mimpi meskipun hanya untuk nongkrong di warungnya Yu Ningsih. Iya kan?"

"Terus?"

"Seluruh waktunya melulu hanya untuk kerja. Padahal orang hidup itu butuh hiburan juga. Nah, satu-satunya pilihan hiburan bagi Lik Kliwon itu ya cuma ngumpuli bojone."

"Terus?"

"Ya terus dadi anak kuwi."

"Kok begitu teorinya? Aneh."

"Wah, dijelaske kok malah maido. Ngumpuli bojo itu memang punya fungsi reproduksi. Tapi bagi sebagian orang, termasuk bagi Lik Kliwon, juga berfungsi sebagai rekreasi. Mudheng ora?"

"Hahaha..., jorok."

"Dikandhani kok ngeyel. Yang jorok itu pikiranmu dhewe. Mana mungkin memesrai pasangan sendiri justru dianggap jorok. Itu kan halal. Dan memang itu kewajiban."

"Tapi kan nggak harus tiap ganti tahun mesti melahirkan, Pakne. Kumpul dan mesra dengan pasangan kan ora kudu dalam rangka nambah anak."

"Itu sudah bukan kuasa kita, Bune. Kuwi wenange Sing Gawe Urip."

"Tapi kita punya hak berencana juga kan?"

"Iya. Tapi kita tidak punya hak sama sekali untuk menghakimi cara Lik Kliwon menjalani hidupnya bersama keluarga."

"Hmmm..., iya ya. Toh mereka tidak salah juga."

"Betul. Mereka orang baik yang hidup di jalan yang benar."

"Lalu kita?"

"Kita ini sering menjadi orang yang pura-pura baik saja, Bune."

"Dan kita sering tidak sadar telah berjalan di jalur yang salah ya, Pakne."
Baca juga:
Misi Kami


Kontak
0812-2728-1565
0812-2728-1565
admin@kanjengdenim.com
Desa Kwagean, Kecamatan Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan Jawa Tengah, Indonesia, 51171
Social Media
Marketplace
Daftar Jadi Sedulur Kanjeng
`Seduluran
Copyright Kanjeng Denim